Mentalitas Seorang Guru
8 Oktober 2010 at 10:59 AM 1 komentar
Kualitas guru di Indonesia, selalu menjadi pertanyaan dunia pendidikan, sehingga dirasakan begitu sulitnya menemui guru yang berkualitas baik, memiliki dedikasi tinggi, memiliki tanggungjawab tinggi, memiliki semangat untuk meningkatkan diri dan lebih parah lagi yang tidak mau merubah paradigma lamanya untuk menerima hal-hal baru semisal perubahan metode pendidikan KSTP.
Tanpa motivasi sulit seorang akan melakukan dengan baik, penuh tanggungjawab, apalagi suruh merubah kebiasaan yang sudah menjadi budaya hidupnya – Akhirnya menjadi guru hanya memenuhi kebutuhan hidup, bukan tanggungjawab mendidik anak sebaik mungkin.
Mentalitas yang rapuh, motivasi apapun yang diberikan tidak akan merubah sikap dan perilaku, dipaksakan juga dilakukan dengan sangat berat, dan akan kembali kambuh jika pengawasan menjadi lemah – Yang dimiliki hanya menggerutu bayaran kok segitu, tidak naik-naik, pekerjaan lebih banyak, dan menyulitkan. Tidak pernah dapat promosi, padahal sudah bekerja puluhan tahun. Lebih suka berdiam ditempat daripada repot-repot. Yang penting gaji berjalan, syukur-syukur dinaikan. Begitulah mentalitasnya, seolah-olah semua itu sudah haknya yang wajar.
Merasakan profesi guru lebih rendah dari profesi lainnya, sehingga merasakan dirinya berada dikelas dua, paradigma ini salah satu penyebab melemahnya mentalitas diri. Guru pada umumnya takut sama protes orang tua, merasa rendah diri dihadapan teman-temannya yang berprofesi lain ( insinyur, dokter, sarjana hukum maupun ekonom ), bahkan kalah pintar dari siswanya yang sudah mahir komputer, lebih banyak pengalaman keluar negeri. Naik pesawat saja belum pernah ! Semua ini mempengaruhi dirinya mudah minder, lebih rendah dari orang lain. Tidak heran banyak guru yang suka marah-marah, apalagi siswanya banyak bertanya yang sulit dijawab oleh gurunya.
KBK atau saat ini diubah menjadi KTSP, salah satunya kreatifitas anak tidak boleh dibatasi, suatu tantangan berat bagi guru yang tidak mau meng up grade dirinya, tidak mau membaca memperkaya pengetahuan yang up to date, merubah metode mengajar yang konvensional ke yang up to date. Sedangkan mengoperasikan computer saja tidak bisa, bagaimana mungkin ? Semua emosi negative ditunjukan dalam perilaku maupun bahasa tubuh yang memperlihatkan dimana seorang guru itu harus ditaati, memberi ulangan yang jawabannya harus sesuai, persis, jarang guru membenarkan jawaban siswa dengan kalimat yang berbeda dengan jawaban soal, meskipun artinya sama – semua itu menunjukan keterbatasan diri, kemudian membatasi siswa untuk tidak keluar dari apa yang diajarkan. Perasaan–perasaan ini secara tidak langsung juga mempengaruhi guru untuk mau belajar lebih banyak, mau membaca buku pengetahuan lebih banyak, belajar untuk mengikuti perkembangan IT yang sudah maju pesat. Sulit untuk membayar waktu lebih dalam mempersiapkan diri supaya lebih baik dalam mengajar.
Satu fenomena yang terlihat, begitu jam dinas selesai, semua pada membersihkan meja untuk siap pulang, besok urusan besok ! Saya paham mereka memiliki tugas lain untuk menambah penghasilan, mungkin mau mengurusi anaknya dan lain-lain. Hanya anda harus tahu anda seorang guru, seorang yang memiliki tanggungjawab besar pada anak didik terhadap INTELEKTUAL dan MORAL dan terhadap masa depan bangsa dan Negara.
Melalui tulisan ini tentu tidak semuanya benar bagi guru-guru yang sudah mempersiapkan diri dengan baik, bagi mereka yang selalu memacu dirinya berbuat lebih baik, mau mngikuti perkembangan pendidikan yang up to date. Namun fenomena ini masih terasa dimana-mana, apalagi sekolah perdesaan akan jauh lebih parah lagi.
Kesejahteraan ditingkatkan terus bahkan diatas gaji pegawai negeri terbaru, peraturan diubah dengan lebih manusiawi, pelatihan-pelatihan peningkatan guru diupayakan terus menerus, motivasi tidak henti-hentinya diberikan. Sudahkah ada hasilnya, jawaban yang pasti, ada ! Namun masih ada juga yang memiliki mental yang sulit diubah. Misalnya diwajibkan mengikuti workshop atau loka karya, masih ada yang merasa sangat berat, seolah-olah tidak membutuhkannya. Sangat kental dengan hitung-hitungan untung-ruginya dalam materi ( padahal free ) – Jarang yang bisa berpikir bahwa itu kesempatan yang tidak boleh disia-siakan, kesempatan memacu diri lebih baik !
Fenomena lain, yaitu menuntut perbaikan nasib menjadi dasar pemikiran, kualitas kerja nomer dua. Fenomena inilah yang menjadi penghambat besar. Ukuran materi sudah lebih utama dari pada kualitas, sangat dipastikan mental semacam ini sulit untuk bisa diubah. Orang bisa menduduki jabatan tinggi, tentu semau itu diawali kualitas, kualitas akan menentukan nilai, bukan sebaliknya. Kita bisa melihat banyak manager / direktur mereka dibayar ratusan juta sebulan, apakah mereka itu dibayar sekian itu, kemudian kualitasnya disamakan dengan nilai uang yang diterima, Tidak bukan ? Mereka pantas menerima banyak, karena kualitas kerjanya sudah terbukti !
Telor dengan ayam siapa lebih dulu ? mungkin karena pepatah ini yang mempengaruhi mentalitas kinerja seseorang, tuntutan materi lebih penting daripada kualitas kerja. Sulit bagi saya untuk meguraikan ini, karena hanya kesadaran yang bisa menjawab semuanya !
Sudah cukup panjang lebar, mungkin bisa membosankan bagi yang membaca, semoga guru-guru kita bisa bercermin diri melalui tulisan yang hanya bertendensi pengharapan ada suatu perubahan dalam dunia pendidikan kita.
Sebagai penutup saya mengutip satu tulisan DARI KITAB Suci, yang cukup baik sebagai peringatan, sekaligus menyadarkan guru-guru bisa lebih menghargai dirinya melalui profesi yang telah menjadikan dirinya melekat, karena tugas mulia ini telah anda pegang.
“ JANGANLAH SEMUA ORANG MEMILIH MENJADI GURU, KARENA GURU AKAN MENERIMA HUKUMAN DUA KALI LIPAT BERATNYA “
Mengapa dikatakan demikian, karena guru memiliki tanggungjawab besar, yang bisa menentukan masa depan anak bangsa, sekaligus masa depan kualitas bangsa dan negara.
Oleh sebab itu guru adalah profesi yang “ MULIA “ janganlah karena kita sebagai guru, menjadi batu sandungannya !
Disampaikan oleh : Kwee Minglie
Alamat Profil:
kompasiana.com/kml_1945
Kompasianer sejak:
10 April 2010
(Sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2010/08/15/mentalitas-seorang-guru)
Entry filed under: Surat Pembaca. Tags: .
1 Komentar Add your own
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Wied | 24 Desember 2010 pukul 1:44 PM
Bagaimana dengan anda?